Feeds:
Tulisan
Komentar

Bulan Ramadhan tidak hanya memberikan rezeki bagi anak-anak kos (karena dapat gratisan makanan, hemat lagi…), tapi juga kepada sutradara film dengan film yang keislam-islaman (sebenarnya banyak yang nggak islami). Selama bulan Ramadhan bukan hanya ta’jil yang enak-enak bin gratis tapi juga sinetron-sinetron religi yang berebut nongol di TV (sampai pusing milihnya).

Kebetulan waktu mudik kemarin saya berkesempatan (di Jogja sebenarnya sempet tapi nggak ada TVnya) menyasikan salah satu sinetron (maaf judulnya saya sensor) yang saya kira awalnya religi karena menceritakan kehidupan wanita bercadar. Tapi kemudian saya merasa kecewa dengan pembuat filmnya. Ada hal yang mengganjal di benak saya. Ketika itu ada adegan wanita bercadar itu mengunjungi dokter untuk menanyakan keadaan kandungannya. Dilihat sekilas memang tidak ada masalah dengan adegan ini. Tapi kalo kita memandangnya dengan kacamata yang syar’i, seperti apa?

Dalam benak saya muncul image bahwa akhwat di Indonesia yang sudah berani bercadar minimal dia adalah penganut islam yang lumayan fanatik. Kita tahu banyak reaksi yang tidak mengenakkan untuk akhwat yang berani bercadar, bahkan aktivis dakwah sekalipun banyak yang belum berani mengambil langkah ini (mungkin saya pun akan pikir dua kali kalo mau menikahi wanita beracadar, karena keluarga dan masyarakat di tempatku pasti tidak siap menerima kondisi itu). Banyak sinisme masyarakat terhadap akhwat bercadar, terorislah, cadar hanya untuk menutup penyakitlah dan lainnya yang tidak mengenakkan. Karena itu cadar di Indonesia adalah pilihan yang berani.

Kembali ke masalah film di atas, hal yang aneh dan tentu tidak syar’i adalah ketika wanita bercadar itu mendatangi dokter sendirian (tanpa suaminya lho….), terus mereka (wanita dan dokter laki-laki) berkhalwat di ruangan dokter tanpa ada pihak ketiga (selain setan). Ini hal kecil tetapi fatal. Film ini secara langsung menunjukkan bahwa sebenarnya sutradara belum memahami betul tentang ajaran islam, bahkan boleh saya bilang hanya meniru film yang pernah ada. Saran saya (kalo sutradara mau baca), setiap sutradara yang mau membuat film islam ya harus belajar islam dulu. Kalo nggak mau, minimal konsultasi sama ustadz dulu……………

sumber tulisan
http://maknakehidupan.wordpress.com/
Sumber film :

tentang film syahadat cinta

Iqbal (Arif Rahman), pemuda metropolis yang tidak pernah sholat dan tak bias mengaji. Namun akhirnya ia mulai meniti jalan yang benar, dimulai saat ia merasa bersalah telah mencelakai ibunya sendiri. Karena penyesalannya, ia memutuskan untuk mondok di pesantren Kyai Siddiq (Muchtar Sum) di Tegal Jadin. Ternyata selama dua bulan Iqbal hanya disuruh mengambil air dari telaga. Saking kesalnya, Iqbal meluapkan amarahnya di telaga. Disanalahi a bertemu dengan Aisyah (Imel Putri Cahyati), putrid Kyiai Subadar (Chairil JM), sekaligus cucu Kyiai Siddiq

Takut dimarahi Kyai dan adanya perseteruan religius yang sangat tajam, Iqbal melarikan diri tanpa tujuan. Hingga ia bertemu Pricilia (Cantika Atmanagara), gadis Kristen yang baik hati. Pricilla membantu iqbal mencari tempat tinggal namun Iqbal memutuskan untuk tinggal di rumah Ibu Jamilah (Donna Harun), seorang pengemis yang hidup bersama kedua anaknya, Fatimah (Salsa) dan Irsyad (Ricky Harun)

Dalam perjalanan mempelajari agama Islam, Iqbal mendapat banyak cobaan. Namun cobaan tersebut tidak membuatnyamundur dari tekadnya untuk menjadi orang yang taat

Jenis Film : Drama

Produser : Budhi Sutrisno
Produksi : Pt Piramid Citra Perkasa
Pemain : Arif Rahman, Imel Putri Cahyati, Cantika Atmanagara, Mochtar Sum , Adytia Putri, Hengky Kurniawan, Ricky Harun, Minati Atmanagara, Donna Harun
Sutradara : Gunawan Paggaru
Penulis : Taufiqurrahman Al-Azizy (novel), Messiah Fajarwati

http://www.filmpendek.org/Bioskop/Syahadat-Cinta.html

————————————————
KOMENTAR :
” Film ini memang baik. tapi ya begitulah cinta menjadi BUMBUnya.  para pemainnya orang yang dari segi akhlaq dan agama harus terus belajar. jangan sekedar di film
Sumber :

Dulu ketika kecil terlintas dalam diri saya untuk bisa tampil dilayar TV. Sejak kecil saya mulai belajar untuk bisa pentas dipanggung. Pernah mengikuti Casting DI MQTV bandung dan mengikuti audisi Film ketika cinta bertasbih. Sebagai seorang muslim saya berharap bisa meninggalkan karya yang bisa mengangkat nilai moral dan agama. Bagi saya da’wah tidak hanya diatas panggung dan mimbar saja. Kesenian bisa dijadikan sarana untuk berda’wah guna menyampaikan pesan moral agama. Dan kini ada cita-cita mempunyai PRODUK HOUSE Islam. Menjadi Produser dan Sutradara Film. Yang saya sedang pikirkan sekarang adalah mempunyai kamera dan Laptop / Komputer. Ada yang bisa Bantu !

Masih ingat film “Fitna” karya Anggota Parlemen Belanda, Geert Wilders? Film yang disebut-sebut memprovokasi kebencian pada Al-Quran dan Islam itu bakal ‘dijawab’ film “Ayat-Ayat Cinta” (AAC).

Rencananya, film karya Sutradara Hanung Bramantyo itu akan diputar sekaligus dipertontonkan pada masyarakat Belanda di Museon, Stadhouderslaan 37, 2517 HV Den Haag, 26 Oktober mendatang.

AAC yang merupakan adopsi dari novel karya Habiburrahman El Shirazy itu, merupakan persembahan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag.

Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, Junus Effendi Habibie, mengatakan, AAC sengaja dipertontonkan kepada masyarakat Belanda dan warga negara Indonesia di negara itu untuk menunjukkan sesungguhnya kehidupan dan kepribadian umat Islam terhadap yang berbeda agama.

Dalam film AAC, digambarkan sosok Fakhri, mahasiswa asal Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Mesir, bersahabat dengan orang nonmuslim.

Rasa saling menghargai dan tolong-menolong di antara mereka, tidak mengenal agama. Islam, dalam film itu, digambarkan penuh kedamaian dan keramahan. Tidak ada satu pun yang menunjukkan tindakan kekerasan seperti yang banyak dikhawatirkan kaum nonmuslim.

Junus mengakui bahwa sebagian masyarakat Belanda masih diliputi perasaan takut pada Islam seperti pada kelompok-kelompok Geert Wilders melalui “Fitna” yang pernah mendapat kecaman dari beberapa kaum muslim di dunia.

Dalam film tersebut, Wilders menggambarkan kekerasan dan memperlihatkan seakan-akan Islam bertanggung jawab atas semua peristiwa kekerasan yang terjadi.

“Tidak benar kalau Islam itu identik dengan kekerasan. Kami akan buktikan kepada dunia bahwa Islam itu merupakan agama yang rukun. Kita juga nantinya akan melakukan open house kepada seluruh masyarakat Belanda pasca hari Natal,” jelas Habibie.

“Kita juga sudah menjelaskan kepada orang-orang Belanda bahwa Indonesia bukanlah negara Islam meski penduduknya banyak yang muslim,” katanya dan menambahkan bahwa selain film Ayat-Ayat Cinta, KBRI juga akan mempersembahkan film Cut Nyak Dien, Denias, Nagabonar dan Kartini. (ant)

http://www.nu.or.id/page.php

Diakui atau tidak perfilman di indonesia khususnya, telah ikut memperpengaruhi pola pikir rakyat indonesia. dampak negatif dari perfilman sungguh amat terasa. dan hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Maka dalam hal ini  produsen dan artis film pun harus tahu diri . Untuk menanggulangi bahaya peradaban, sudah saatnya kita membuat film yang menjungjung nilai moral . Produsen, artis dan aktrisnya harus sadar akan hal itu. meninggalkan madhorot untuk keturunan kita sungguh amat tercela.


Muhammad Rachmat
Pengamat dan Kritikus Film dan Sinetron Indonesia